Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
SIARAN PERS
Gerakan Melawan Lupa Peresmian Mural Prasasti Tragedi Trisakti & Mei 1998

Tgl terbit: Senin, 12 Mei 2014

Gerakan Melawan Lupa
Peresmian Mural “Prasasti Tragedi Trisakti & Mei 1998”

Hari ini tepat 16 (enam belas) Tahun Peristiwa Penembakan Mahasiswa di depan Universitas Trisakti (12 Mei 1998) oleh aparat (ABRI dan Polri). Tuntutan reformasi yang disuarakan oleh mahasiswa direspon secara represif oleh aparat dengan melakukan penembakan ke arah kampus sehingga mengakibatkan 4 (empat) mahasiswa Trisakti meninggal : Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto dan Hendriawan Sie serta ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Hak atas Keadilan bagi keluarga korban 4 mahasiswa Trisakti masih masih diabaikan oleh negara. Padahal pada tahun 2005 Presiden telah memberikan gelar Bintang Jasa Pratama kepada 4 mahasiswa yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut sebagai pejuang Reformasi. Perjuangan mahasiswa mendorong lahirnya reformasi telah memberikan kontribusi yang besar terhadap perbaikan sistem bangsa dan negara didalam pelbagai sektor. Pasca pemberian gelar tidak ada progress yang jelas dari Presiden untuk menuntaskan peristiwa ini melalui proses hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

Terhadap peristiwa Trisakti Komnas HAM pada Agustus 2001 telah membetuk Komisi Penyelidikan Pelanggaran (KPP) HAM Trisakti, Semanggi I dan II. Komnas HAM dalam hasil penyelidikannya menyatakan; bahwa dalam 3 (tiga kasus); Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II telah terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity), yakni pembunuhan dan perbuatan-perbuatan tidak berperikemanusiaan yang berlangsung secara sistematis (systematic), meluas (widespread) dan ditujukan kepada warga sipil. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan dengan inisiatif dan peranan penuh aparat-aparat TNI dan Polri yang menggunnakan kekuatan dan alat-alat kekerasan secara eksesif untuk mencapai tujuan-tujuan politik tertentu. Kemudian pada April 2002 Komnas HAM menyerahkan berkas hasil penyelidikan kepada Jaksa Agung untuk ditindak lanjuti ke tahap penyidikan. Namun hingga kini Jaksa Agung masih menolak melakukan penyidikan sehingga 12 tahun berkas penyelidikan peristiwa Trisakti masih menggantung di Kejaksaan Agung.

Perjuangan korban selama 16 tahun merupakan sebuah proses perjalanan yang panjang dalam meraih keadilan. Sementara negara terutama pemerintah sebagai pemangku kewajiban dalam penghormatan, penegakan, perlindungan, pemenuhan HAM sebagai UUD 1945 dan UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM justru melakukan upaya pelupaan atas sejarah kelam di masa lalu. Hal terebut harus menjadi catatan penting bagi kita semua bahwa Impunitas (kejahatan tanpa hukuman) semakin dilegalkan oleh negara.

Ditengah absennya akuntabilitas negara dalam penuntasan peristiwa pelanggaran HAM berat kami membumikan kembali sebuah gerakan melawan lupa melalui peresmian Mural “Prasasti Tragedi Trisakti dan Mei 1998”. Melalui pesan Mural yang kami lakukan di ruang publik akan terus menjadi pengingat “Sinyal” bahwa publik tidak akan pernah lupa atas sebuah tragedi kemanusiaan yang telah merenggut banyak nyawa para pencari keadilan termasuk mahasiswa yang mendesak lahirnya reformasi. Melalui Mural ini kami berpesan kepada negara dan publik untuk tidak melupakan jasa para pejuang reformasi yang telah merelakan jiwanya sebagai martil dari sebuah perubahan.

Substansi yang terkandung dalam Mural ini menggambarkan secara komprehensif atas fakta politik yang terjadi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Partai Politik (Parpol) dengan kandidat Calon Presiden dan Wakil Presidennya (Capres dan Cawapres) hanya sibuk kasak-kusuk mencari mitra koalisi untuk merebut kekuasaan. Prinsip evaluasi atas rekam jejak masa lalu Capres dan Cawapres diabaikan. Semua Parpol menutup mata atas peristiwa Pelanggaran HAM berat masa lalu. Publik seolah diajak untuk melupakan peristiwa kelam yang terjadi di masa lalu dengan janji akan kesejahteraan dan perubahan yang tak kunjung direalisasikan. Oleh karenanya melalui Mural ini pesan kami adalah “Tolak Capres dan Cawapres Pelanggar HAM” jangan biarkan bangsa dan negara ini dipimpin oleh orang yang memiliki rekam jejak buruk dalam persoalan kemanusiaan.

 

Jakarta, 12 Mei 2014

Keluarga Korban Tragedi Mei 1998
Mahasiswa Sekolah Tinggi Media Komunikasi Trisakti
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)



Kasus terkait Semanggi II 1999;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Aktor Pelaku terkait:

Dilihat : 2,592 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org