Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
SIARAN PERS
Refleksi 17 Tahun Reformasi
Pementasan Theater Suluh: Kami Bunuh Mereka

Tgl terbit: Kamis, 30 April 2015

Refleksi 17 Tahun Reformasi
Pementasan Theater Suluh: Kami Bunuh Mereka

"Sejarah adalah tempat dimana kita pulang"
Demikian sebaris kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer. Sebaris kalimat yang selalu mengingatkan kita untuk terus menerus merawat ingatan. 17 Tahun peristiwa Mei 1998 dan Trisakti, Peristiwa Jambu Kepok dan Simpang KKA di Aceh belum mendapat perhatian dari pemerintah. Upaya penegakan hukum atas kasus-kasus pelanggaran HAM tersebut masih setengah hati dan hanya jadi jargon pemerintah. Karenanya KontraS dan Social Movement Indonesia (SMI) dengan Pementasan Teater Suluhnya mencoba terus merawat ingatan akan sejarah yang belum selesai.

KAMI BUNUH MEREKA merupakan naskah yang menghidupkan kembali ingatan atas peristiwa pelanggaran HAM. Naskah ini ditulis oleh Eko Prasetyo dengan sutradara M Noerdianza. Melalui pementasan ini akan terungkap bagaimana kejahatan HAM itu dilakukan dengan cara-cara keji dan perlawanan atas kejahatan itu tak pernah berhenti.

  • Teater ini akan dipentaskan tanggal 1 Mei 2015 di Fakultas Peternakan UGM
  • Dan 3 Mei 2015 di hall FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pentas juga akan diselenggarakan di Malang dan Jakarta. 

Naskah theater ini juga memberi ingatan pada semua orang tentang aksi kamisan yang oleh SMI sudah dilakukan sepanjang setahun. Dengan durasi selama hampir dua jam naskah ini memadukan drama, musik dan tari. Bercerita tentang seorang Jendral bersama dua ajudan yang mulai marah dengan gugatan sejumlah anak-anak muda mengenai masa lalu. Kemarahan yang diujudkan dengan upaya untuk membungkam semua tuntutan itu. Dilukiskan dalam naskah ini bagaimana kekuasaan selalu membangun metode untuk melupakan adanya pelanggaran HAM.

Adegan tersusun dalam beberapa babak yang menjelaskan pertarungan antara keinginan melupakan dan kehendak untuk mengingat.  Dimeriahkan oleh musik dan tari naskah ini melukiskan adegan pertarungan dengan indah. Juga digambarkan bagaimana metode-metode perlawanan alternatif yang dilakukan oleh anak-anak muda untuk membangun ingatan kejahatan HAM masa lalu. Penonton akan diajak untuk memahami bahwa tuntutan atas pelanggaran HAM sejajar dengan keinginan untuk mendirikan keadilan.

Naskah ini sudah dipentaskan di Fakultas Kedokteran UGM, Magister Administrasi Publik UGM dan Taman Budaya Surakarta.

Ada kurang lebih 30 pemain dan pemusik membuat teater ini mirip dengan opera. Keunikannya naskah ini dimainkan oleh mahasiswa dari berbagai jurusan: fisipol UGM, Farmasi UAD, ISI, Universitas Taman Siswa, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Muhammadiyyah dan Akademi Kesehatan Yogyakarta. Juga didukung oleh asrama Mahasiswa Sulawesi Tengah Yogyakarta. Singkatnya kerja besar teater ini didukung oleh aktivis mahasiswa dari berbagai kampus.

Hormat Kami
Social Movement Indonesia [SMI]
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan [KontraS]



Kasus terkait Pelanggaran HAM di Aceh;:


Isu terkait:


Wilayah terkait:


Dilihat : 1,849 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org