Untitled Document
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan
Untitled Document Pencarian detail

IND | ENG
Untitled Document
Untitled Document
   
KEGIATAN
Pembukaan SeHAMA 2015
"Anak Muda, Kreativitas dan Gerakan Keadilan Sosial"



Tgl terbit: Minggu, 02 Agustus 2015

Sekolah Hak Asasi Manusia Untuk Mahasiswa (SeHAMA) yang sudah diadakan oleh KontraS selama tujuh tahun. SeHAMA dibentuk untuk mengembangkan jiwa-jiwa muda agar mengenal hak asasi manusia dan konsep-konsep di dalamnya secara mendalam. SeHAMA diadakan selama kurang lebih tiga pekan, dengan materi hak asasi manusia yang beragam seperti isu-isu hak sipil dan politik, hak ekonomi sosial dan budaya, kesetaraan gender, kampanye HAM populer dan dilanjutkan dengan observasi lapangan ke komunitas masyarakat yang rentan akan pelanggaran hak asasi manusia.

Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 31 Juli-18 Agustus 2015 dan diikuti oleh 30 peserta dari seluruh Indonesia ini dibuka di Goethe Haus pada tanggal 2 Agustus 2015. Acara yang dibuka dengan kata sambutan dari Koordinator KontraS, Haris Azhar, Perwakilan Kedutaan Besar Kanada, Huy Nguyen dan Kepala Sekolah SeHAMA 2015, Puri Kencana Putri. Pembukaan SeHAMA yang dimeriahkan oleh penampilan musisi, Bondan Rastika dan ditutup dengan kuliah umum bertema Anak Muda, Kreativitas dan Gerakan Keadilan Sosial. Kuliah umum yang diisi oleh Romo Setyo Wibowo, Dosen STF Driyarkara, Kartika Jahja seorang musisi yang juga merupakan aktivis anak muda dan Irwan Ahmett seorang seniman yang sering membawa isu sosial dan hak asasi manusia dalam karyanya.

Pertama, Romo Setyo memaparkan mengenai makna keadilan sosial secara filosofis. Bahwa adil bukan hanya sekedar impas. Impas yang dimaksud ketika “mata diganti mata, maka seluruh dunia akan buta”. Maka dari itu, Romo Setyo mencoba menjelaskan bagaimana sebetulnya yang dimaksud dengan adil. Lewat pendekatan hukuman mati yang diterapkan di Indonesia, dimana sesungguhnya praktek hukuman mati mengesampingkan fakta bahwa kondisi hukum di Indonesia masih belum adil dan bersih. Mengenai Negara darurat yang dinyatakan oleh Jokowi lewat hasil data dari survei BNN belum bisa dinyatakan valid. Masih banyak kejanggalan dalam fakta penyebaran narkoba di Indonesia. Romo Setyo menyatakan bahwa seharusnya ruang hukum itu dibuat sebagai ruang koreksi bagi para narapidana, bukan ruang balas dendam.

Kedua, Kartika Jahja memaparkan mengenai anak muda dan gerakan, khususnya gerakan keadilan sosial. Pertama-tama, Kartika menanyakan apakah benar bahwa gerakan anak muda masa kini sudah mulai redup semangatnya? Kartika menjawab bahwa sesungguhnya gerakan anak muda masih ada tetapi dengan bentuk yang lebih beragam. Gerakan akan selalu ada apabila ada rasa tidak puas dari masyarakat kepada pemegang kuasa. Sebuah gerakan harus bisa mengisyaratkan kepada masyarakat bahwa ada sebuah urgensi yang harus disampaikan agar terjadi perubahan yang diinginkan. Jika gerakan tersebut hanya membuat masyarakat sebagai pihak penonton yang pasif saja, maka gerakan tersebut tidak ada gunanya. Ruang-ruang edukasi yang dimiliki oleh anak muda seharusnya bukan menjadi batasan dalam membentuk sebuah gerakan. Seluruh bidang ilmu yang dimiliki oleh masing-masing anak muda bisa digunakan untuk menjadi satu gerakan. Sebuah gerakan pun tidak melulu harus dicanangkan atau dimotori oleh aktivis, seluruh lapisan masyarakat bisa menjadi motor dari sebuah gerakan. Di akhir presentasi, Kartika menutup dengan mengatakan bahwa gerakan tidak selalu harus mengepal tangan tetapi gerakan bisa dilakukan dengan cara merangkul.

Ketiga, Irwan Ahmett seorang seniman internasional yang bergerak dalam isu-isu sosial dan kemanusiaan memaparkan mengenai metode seperti apa yang sesungguhnya kerap kali digunakan dalam sebuah gerakan. Sebuah gerakan dapat bisa berkembang dan mempengaruhi khalayak luas dari hanya sebuah simbol. Irwan menjelaskan perkembangan propaganda simbol dari masa ke masa. Mulai dari simbol palu dan arit, simbol matahari tertib dan lain sebagainya. Irwan juga menjelaskan bagaimana sesungguhnya awal mula dari revolusi di Mesir hanya dimulai dari satu buah video ajakan untuk bersama-sama membentuk sebuah aksi dan berkumpul di Tahrir Square. Ribuan masyarakat Mesir berkumpul untuk menuntut keadilan hanya dari sebuah video yang tersebar dari mulut ke mulut. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya sebuah urgensi yang tersirat dari video ajakan tersebut.

Di akhir acara, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya keadilan sosial bukan hanya sekedar impas, keadilan sosial akan hadir dari banyak elemen yang ada di sekitar kita yang dapat di ekstrak menjadi sebuah gerakan dengan karya yang indah yang salah satunya dapat hadir dari diri anak muda Indonesia, sebagai kemewahan yang dimiliki oleh suatu bangsa.

 



Isu terkait:


Dilihat : 1,683 kali

Untitled Document
ARTIKEL TERPOPULER

Dua Tahun Pemerintahan Widodo-Kalla: Minim Prestasi, Gemar Klaim Sepihak Keberhasilan Penegakan Hukum Dan HAM
Hilangnya Wiji Thukul
Penembakan dan Pembunuhan Sewenang – Wenang di Enarotali, Paniai;
Segera Bentuk Tim Independen, Pulihkan Korban dan Masyarakat;

Peringatan Hari HAM Sedunia 10 Desember 2014
HAM hari ini: Siapa yang akan bertanggung jawab?

Surat Terbuka :
"Mendesak Komnas HAM untuk Membentuk Tim Penyelidikan Terkait Dugaan Peristiwa Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Paniai"

Komnas HAM Harus Segera Keluarkan Rekomendasi Hasil Penyelidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat Aceh
Pemerintah Indonesia Tidak Pro HAM dan Demokrasi Dengan Kembali Abstain dalam Resolusi PBB Terhadap Korea Utara
Bentrokan TNI Vs Polri: Ancaman Atas Rasa Aman Bagi Masyarakat
Peringatan 66 Tahun Hari HAM Internasional :
Hentikan Penyiksaan dan Penuhi Hak-Hak Korban

Komnas HAM dan Kejaksaan Agung harus Segera Panggil AM. Hendropriyono
Pembebasan Pollycarpus: Negara tidak berdaya terhadap pelaku kejahatan kemanusian
Surat Terbuka: Desakan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI pelaku penyerbuan terhadap petugas Satpam Kramat Jati
Proses Penyelesaian Kasus Penculikan dan Pelanggaran HAM
Menanggapi pro dan kontra Pengakuan Prabowo Subianto atas keterlibatannya dalam kasus penculikan aktivis 1997-1998
Mempertanyakan Komitmen Indonesia sebagai Anggota Dewan HAM PBB Periode 2015 – 2018
Surat Terbuka: Desakan kepada Kapolri untuk mengusut Tuntas Praktik Mafia Perdagangan Orang di institusi Polda NTT
Pernyataan Sikap Bersama 16 Tahun Tragedy Semanggi I Presiden, Pilihlah Jaksa Agung Bermental Baja
Hentikan Perampasan Tanah, Intimidasi, Kekerasan dan Kriminalisasi Terhadap Petani Takalar, Sulawesi Selatan
Laporan Lanjutan Kerusuhan Sambas
Kedatangan dan Tuntutan Keluarga Tengku Bantaqiyah
POLEMIK PENYELESAIAN KASUS PELANGGARAN HAM
English
Surat : Penolakan Pemberian Gelar Pahlawan Bagi (alm.) Soeharto
15 tahun Tragedi Semanggi I : Mereka Lupa, Kami Luka
Potret Penanganan Kasus Pelanggaran HAM di Papua Komnas HAM Gagal Menghadirkan Keadilan
Presiden Jokowi; Pilih Jaksa Agung yang Berani Melakukan Penyidikan Kasus Pelanggaran HAM Berat
Media Sosial |        
KABAR TERKINI
Untitled Document
SIARAN PERS
BERITA
OPINI
DATA
KEGIATAN
KAMPANYE
Untitled Document

Copyright © 2015 | www.kontras.org
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen | Jakarta Pusat 10420
Tlp: 021-3919097, 3919098 | Fax: 021-3919099 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org