korban penculikan
Profile Korban
Buku
Lain-lain

tombol.gif
penculikan
AKSI-AKSI    
 

05 Des 2013

Bersama Pemuda untuk Perdamaian “Salam keberagaman”

 

Kalimat tersebut sering kita dengar dalam acara diskusi yang digelar oleh organisasi Pemuda Lintas Iman (PELITA) yang berlangsung di Yayasan ISIF Fahmina. Acara yang didukung juga oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) ini dilaksanakan pada tanggal 23-24 November 2013 di Cirebon, Jawa Barat, untuk memperingati Hari Toleransi Internasional. Acara yang bukan hanya sekali dua kali digelar oleh komunitas lintas iman seperti PELITA. Sekitar lebih dari 30 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, terdiri dari pemuda dan orang tua dari beragam latar belakang suku, budaya dan keyakinan, duduk setara dalam acara diskusi tersebut. Beberapa undangan komunitas dan organisasi kepemudaan di sekitar Cirebon hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Jaringan Ahmadiyah Indonesia, Gereja Kristen Advent, Gereja Khatolik Bunda Maria, Majelis Pengajian Hidup di Balik Hidup, dan organisasi kampus.

Dalam beberapa acara diskusi sebelum-sebelumnya PELITA sering mendapat teror dari kelompok-kelompok yang masih keliru memahami kebersamaan tersebut. “Misalnya,tak jarang kami didatangi oleh organisasi massa (ormas) Islam tertentu, bahkan diminta membubarkan acaranya”, ujar Devida yang saat ini menjabat sebagai Ketua PELITA. Namun berkat kekuatan aliansi-aliansi di daerah seperti, Kuningan dan Majalengka forum-forum diskusi tetap terlaksana. Citra populer baru tentang kota Cirebon adalah terkait dengan situasi intoleransi beragamanya. Dulu ketika mendengar Cirebon, bukan hanya mendapat gambaran tentang budayanya. Namun, juga sudut-sudut dimana terjadinya pertukaran budaya, yang memungkinkan peningkatan ilmu pengetahuan dan akulturasi kebudayaan. Aspek akulturasi kebudayaan bisa dilihat dari bangunan peninggalan sejarah seperti bangunan keraton yang memiliki unsur-unsur perpaduan kultur arsitektur India,Jawa, Belanda, Cina sekaligus Arab.

Rangkaian kekerasan atas nama agama, menjadi kegelisahan tersendiri bagi komunitas lintas iman di Cirebon, terutama yang dirasakan oleh kaum mudanya. Organisasi PELITA aktif untuk mengadvokasi tindakan yang intoleran yang terjadi di Cirebon, serta pengumpulan data-data yang berkaitan dengan persoalan tersebut. Sejalan dengan acara diskusi, KontraS juga melakukan pelatihan Advokasi dan HAM. Masihuddin dari KontraS menyatakan,”Relevan saat kita bicara pluralitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, berarti mendorong aparat hukum dan pemerintah mengambil peran.” Tidak hanya itu, KontraS juga melakukan pemutaran film tentang peran kepolisian terkait isu kebebasan berkeyakinan dan beragama (KBB).Setelah pemutaran film diikuti dengan diskusi terbuka. Hal tersebut disambut dengan baik oleh peserta dengan menyampaikan permasalahan masing-masing. Fungsi strategis adanya forum semacam ini adalah juga untuk menjadi sarana dialogis antar-kelompok, dalam rangka mengembangkan suasana toleran dan pemahaman perlunya menghargai keberagaman dalam masyarakat multikultur.


Dalam kegiatan tersebut juga, Luh Putu Kusuma Ririen, staf divisi Kampanye dan Jaringan KontraS, mengatakan perlu ekspresi yang kuat antar berberapa jaringan dalam forum antar umat beragama. “Ada beberapa cara pendokumentasian semisal melalui tulisan, foto dan video yang dapat disebarkan untuk tindak lanjut langkah berikutnya,” ujarnya. “Saya harap seluruh elemen masyarakat dan dari berbagai forum bisa berbagi informasi untuk mewujudkan Cirebon yang damai. Terlepas dari intrik antar agama, harus saling bahu-membahu dan bersama-sama membangun jejaring secara lokal”, lanjutnya.

Terdapat beberapa pembahasan oleh para peserta tentang kondisi yang sampai saat ini diidentifikasi menjadi permasalahan di wilayah Cirebon, sebagai berikut:

  1. Jaminan negara dalam kekebasan beragama yang diatur dalam UUD pasal 29
  2. Peran kepolisian dalam melindungi hak warga negara terkait isu kebebasan beragama dan berkeyakinan
  3. Perizinan pembangunan tempat ibadah
  4. Pembubaran dan penyisiran (sweeping) Yayasan Majelis Hidup di Balik Hidup serta penahanan para pengikutnya oleh kepolisian.
  5. Tindakan pendokumentasian yang sering dilarang oleh intel kepolisian
  6. Pejabat publik yang intoleran
  7. Serta pengaruh media yang sering membelokkan fakta sebenarnya.

Sangat disayangkan selalu saja ada pihak-pihak yang terus berusaha memicu timbulnya permusuhan, termasuk di Kota Cirebon. Kendati keberagamannya sangat bagus, namun masih ada kerikil penghalang mewujudkan damai. Upaya organisasi PELITA Cirebon dan KontraS secara garis besar mengajak kaum muda dari berbagai agama dan keyakinan untuk makin memupuk toleransi terutama di tingkat daerah.

 


 
 

Copyright © 2007 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org