korban penculikan
Profile Korban
Buku
Lain-lain

tombol.gif
penculikan
AKSI-AKSI    
 

18 Nov 2009

Menunggu keadilan di Sudut Semanggi
Catatan Peringatan Tragedi Semanggi I

Kapan pun aku mati, aku siap
Bagaimanapun caranya, aku siap
Aku tidak pernah bermimpi dihormati
Aku hanya bermimpi hidup makmur sejahtera
Walaupun di alam baka

(Sebuah penggalan puisi Wawan yang dibuat pada 1998 dan belum diberi judul)

Petikan puisi diatas adalah sebagian dari sejumlah mural di atas kain sepanjang 25 meter yang berjajar di pagar kampus Atmajaya. Salah satu mural tersebut ada yang bergambar anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sedang mengantuk di ruangan sidang dan dibawahnya bertuliskan plintat-plintut. Kreasi seni guratan sejumlah seniman Jakarta tersebut terpampang di pagar kampus Atmajaya dalam rangka memperingati tragedi Semanggi I yang diselenggarakan dari tanggal 18-19 November 2009.

Bagi sebagian orang, tragedy Semanggi I mungkin sudah lepas dari ingatan publik. Di tengah maraknya dukungan publik untuk penuntasan isu pemberantasan korupsi, dimana sedang heboh soal Cicak vs Buaya, sejumlah jaringan masyarakat sipil tetap menjaga ingatan dengan membuat acara peringatan Semanggi I. Tragedi yang terjadi sebelas tahun silam itu kian timbul tenggelam dari memori sebagian besar rakyat Indonesia. Padahal peristiwa tersebut adalah tonggak perubahan negeri ini. Peristiwa ini terjadi ketika mahasiswa dan rakyat yang bersatu untuk menolak sidang istimewa MPR yang dinilai inkonstitusional serta meminta Presiden untuk mengatasi krisis ekonomi, justeru direspon secara represif oleh aparat keamanan sehingga menimbulkan ratusan orang luka-luka serta 18 orang meninggal dunia.

Peringatan ini ditujukan sebagai aksi untuk melawan lupa, bagian dari upaya mengingatkan Pemerintah dan masyarakat Indonesia bahwa di Republik ini pernah terjadi sebuah kekerasan oleh negara terhadap rakyatnya tapi tidak ada kejelasan hukumnya. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tidak Kekerasan (KontraS), SeHAMA (Sekolah Hak Asasi Manusia), Viaduct (Persma Atmajaya), jajaran Senat Mahasiswa Atmajaya, Senat YAI, dan sejumlah seniman yang tergabung dalam Jaringan Mayarakat Pencari Keadilan (JMPK) pada peringatan Tragedi Semanggi I yang ke sebelas ini ingin menghidupkan kembali memori masa lalu, menemukan keadilan lewat konsistensi tuntutan yang tidak pernah berhenti.

Acara yang dilakasanakan selama tiga hari tersebut diawali dengan menggelar instalasi seni mura karya para seniman Jakarta, seperti Atapalis, Serum UNJ, Kuas N Roll, yang membuat mural sepanjang 30 meter terpampang di pagar kampus Atmajaya. Sebagai catatan gambar yang melukiskan bagaimana peristiwa itu terjadi, pameran foto soal peristiwa Semanggi juga diselenggarakan. Sebuah baliho bertuliskan saatnya buka mata, buka mulut, buka telinga, terpampang didepan gerbang masuk kampus Wawan tersebut. Disepanjang koridor menuju ruang perkuliahan terdapat sejumlah mahasiswa membagikan kartu pos berisi petisi untuk DPR dan Presiden agar segera menuntaskan kasus Tragedi Semanggi I dengan mengeluarkan serta mengikuti rekomendasi dari DPR yang lebih dahulu dikeluarkan untuk kasus orang hilang.

Pada hari ke dua acara dilanjutkan dengan pemutaran film yang diikuti dengan diskusi seputar Tragedi Semanggi I yang bertempat di Hall C Kampus Unika Atmajaya. Acara tersebut menyedot perhatian banyak mahasiswa karena film tersebut menampilkan perjuangan kampus mereka sendiri, dan juga karena diskusi tersebut mengulas sebuah dokumentasi Offstream bagaimana detik-detik peristiwa Semanggi terjadi. Lexi Rambadeta sebagai nara sumber sekaligus perekam suasana mencekam pada saat itu juga mewawancarai kepala Polisi Daerah Metro Jaya berbicara mengenai bagaimana penanganan kota Jakarta saat itu. Setelah menonton film dan berdiskusi, para mahasiswa dari beberapa kampus di Jakarta tersebut melanjutkan acara dengan menyerahan kartu pos yang terkumpul kepada Presiden melalui acara aksi bersama keluarga korban pelanggaran HAM (biasa disebut Kamisan) di Istana Negara. Malamnya, acara dilanjutkan dengan doa bersama untuk wawan di kediaman Ibu Sumarsih

Rangkain terkahir dari peringatan ini adalah tabur bunga, aksi ke DPR, dan juga refleksi. Tabur bunga dilakukan di makam Sigit Prasetyo di Tanah Kusir dan juga di depan Atmajaya, tepat dimana BR Norma Irmawan (wawan) mahasiswa fakultas ekonomi yang tertembak pada 20 November lalu. Setelah itu, ditengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta, kelompok yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Pencari Keadilan (JMPK) melakukan aksi ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekaligus menyerahkan kartu pos yang berisi petisi kepada anggota dewan untuk segera menuntaskan Tragedi Semanggi I yang belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Sumarsih, ibunda Wawan menyerahkan ratusan kartu pos kepada sekertariat ketua DPR RI bersama sejumlah perwakilan mahasiswa.

Hadir pula pada malam refleksi adalah sejumlah teman-teman Wawan saat itu, bersama sejumlah jaringan mahasiswa Jakarta yang selaku penyelenggara acara, beserta orang tua keluarga korban; seperti Pak Arif priyadi, Pak Widodo dan sejumlah keluarga korban pelanggaran HAM yang lain melakukan renungan dan diskusi di pelataran Atmajaya. Hadir pula pada malam itu Romo Setyo Wibowo, Usman Hamid, yang mengupas soal politik impunitas dan wacana pelupaan yang mulai menghinggapi nalar politik publik saat ini. Adalah penting untuk memaknai masa lalu sebagai persoalan yang berimbas pada kondisi kekeinian, tatkala persoalan lalu itu tidak pernah diselesaikan. Pesan yang mengemuka pada malam itu adalah bagimana pentingya jaringan masyarakat sipil untuk terus melakukan gerakan, aktivitas untuk melakukan penyadaran, mengingatkan kembali akan peristiwa, serta menguak persoalan ketidakmauan politik pemerintah dalam menuntasaskanya. (RA)


 
 

Copyright © 2007 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org