korban penculikan
Profile Korban
Buku
Lain-lain

tombol.gif
penculikan
Untitled Document
BERITA      
 
KELUARGA KORBAN PENCULIKANTAK KENALI MAYAT
Sumber: KOMPAS Tanggal:08 Agt 1998

Jakarta, Kompas
Lima anggota keluarga korban penculikan tidak dapat mengenali tiga mayat yang ditemukan di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, di utara Jakarta. Oleh karena itu, tim Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) masih menunggu hasil identifikasi lebih rinci dari tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Demikian dikatakan Koordinator Kontras Munir kepada pers menanggapi perkembangan pemeriksaan tim forensik RSCM dan kunjungan keluarga korban ke RSCM, Jumat (7/8). Kelima anggota keluarga yang berkunjung ke RSCM, Jumat siang adalah keluarga Noval Alkatiri, Herman Hendrawan, Yadin Muhidin, Ucok Munandar Siahaan, dan Hendra Hambali.

Munir mengatakan, dari keluarga yang hadir, mereka sudah tidak dapat mengenali fisik mayat dan pakaian yang ada. "Jadi, bisa saja mayat ini tidak terkait dengan kasus penculikan, atau memang perlu identifikasi lebih jauh dan rinci," katanya. Oleh karena itu, pihak Kontras masih menunggu hasil penyamaan informasi dari data yang diajukan Kontras dan keluarga Korban tentang kondisi mereka dengan identifikasi tim forensik.

Sementara Kepala Bagian Forensik RSCM/UI Dr Budi Sampurna seperti dikutip Antara mengemukakan, hasil pemeriksaan sementara Tim Forensik RSCM terhadap tiga mayat tak dikenal yang ditemukan di Kepulauan Seribu, menunjukkan, tidak adanya unsur penganiayaan pada tiga jenazah itu. "Tim forensik RSCM yang memeriksa tulang ketiga mayat itu tidak menemukan adanya unsur penganiayaan," katanya.

Identifikasi visual
Sementara itu, Ketua tim Forensik RSCM dr Herkutanto yang dihubungi Kompas Jumat malam mengatakan, pada waktu anggota keluarga korban melihat ketiga mayat tersebut, diterapkan identifikasi visual langsung. Artinya, keluarga korban langsung melihat tengkorak dan pakaian saja dan kemudian menentukan apakah mayat tersebut merupakan

anggota keluarganya. "Jawabannya hanya ya atau tidak," katanya sambil menambahkan, keputusan tersebut tidak bersifat konklusif.

Herkutanto menjelaskan, tim forensik sedang menjalankan pemeriksaan gigi untuk melihat kelengkapan dan struktur gigi. Dari pemeriksaan dapat juga diketahui kebiasaan korban pada waktu masih hidup misalnya kebiasaan merokok.

Menurut Herkutanto, tim forensik lebih diperluas dengan mengikutsertakan tim dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia. Ia menilai, data yang diberikan anggota korban yang hilang akan membantu identifikasi mayat tersebut.

Ia menambahkan, foto-foto yang sangat membantu itu tidak hanya dari foto wajah, melainkan juga foto korban yang hilang dari segala sisi, misalnya dari samping. Foto tersebut dapat juga membantu tim forensik untuk merekonstruksi mayat yang ditemukan dan membuat perbandingan.

Saksi takut
Sementara sehubungan dengan kasus penemuan 14 mayat di Sungai Way Umpu, Lampung Utara, Munir mengungkapkan, para saksi yang melihat mayat merasa takut untuk memberikan keterangan setelah polisi memeriksa tempat tersebut. "Kontras melihat langkah polisi yang dilakukan di sana tidak memberi ruang bagi upaya penyelidikan kasus mayat tersebut," katanya seraya menambahkan para saksi tersebut justru diperiksa dan sempat distatuskan sebagai tersangka.

Dijelaskannya, setelah diprotes baru ada perubahan tindakan aparat terhadap para saksi. Menurut Munir, bagaimanapun sikap kepolisian tersebut menjadi persoalan bagi Kontras karena polisi di sana tidak menunjukkan suatu langkah yang akomodatif untuk menyelidiki keberadaan dan menyulitkan penyelidikan mayat tersebut. Kontras akan tetap meneliti dan menelusuri sungai sampai ditemukan mayat-mayat lain.

Tetap menolak
Sementara aktivis mahasiswa korban penculikan, Andi Arief tetap menolak memenuhi panggilan kedua Pusat Polisi Militer (Puspom) ABRI. Ia baru memenuhi panggilan itu kalau sudah ada penjelasan dari Mabes ABRI tentang nasib 14 aktivis korban penculikan yang belum jelas keberadaannya.

Demikian Kepala Operasional Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung Iberahim Bastari, Jumat di Bandarlampung. Surat panggilan kedua Puspom ABRI itu ditandatangani Kolonel (CPM) Sudirman Panigoro dan disampaikan melalui Kontras, 3 Agustus 1998.

Andi dipanggil menghadap Komandan Puspom ABRI pada 5 Agustus, untuk menjadi saksi dalam kasus orang hilang. Ia baru akan memenuhi panggilan Puspom ABRI jika 14 aktivis korban penculikan lainnya dilepas.

Andi juga meminta Puspom ABRI tidak terlalu cepat mengajukan tersangka ke pengadilan. "Sebab tidak tertutup pula kemungkinan, korbannya ada yang sudah meninggal. Jika ada yang meninggal, maka perlu ada institusi atau person yang bertanggung jawab," kata Iberahim mengutip Andi Arief. (bb/cal)

 
 

Copyright © 2007 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org