korban penculikan
Profile Korban
Buku
Lain-lain

tombol.gif
penculikan
Untitled Document
BERITA      
 
"Mengapa Kau Culik Anak Kami?" PERTANYAAN ITU BELUM TERJAWAB
Sumber: KOMPAS Tanggal:09 Agt 2001

"Apa orang-orang itu tidak punya seorang ibu yang setidak-tidaknya pernah memperkenalkan kasih sayang, kelembutan     cinta..."
"Apa kamu pikir orang-orang itu dilahirkan oleh seorang ibu?"
"Apa mereka lahir dari batu?"
"Mereka dilahirkan oleh rahim kekejaman."

DIALOG di atas diucapkan tokoh Ibu dan Bapak yang diperankan Niniek L Karim dan Landung Simatupang dalam Mengapa Kau Culik Anak Kami?-drama yang ditulis dan disutradarai oleh Seno Gumira Ajidarma. Banyak penonton berkaca-kaca matanya menyaksikan pementasan drama sepanjang 75 menit itu, yang selama itu pula suasana dicekam oleh kepiawaian akting dua aktor andal itu, yang satu dari Jakarta dan satu lagi dari Yogyakarta.

Drama ini dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 6-8 Agustus 2001, dan setelah ini akan digelar di Societeit, Taman Budaya, Yogyakarta, 16-18 Agustus mendatang. Pertunjukan diproduksi oleh Perkumpulan Seni Indonesia bekerja sama dengan Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).

Panggung diisi oleh garapan artistik dari tokoh yang juga jarang muncul, yakni Chalid Arifin, lulusan Institut Des Hautes Etudes Cinematographiques, Perancis. Suasananya serba minimalis, sampai ke tata lampu maupun garapan musik oleh Tony Prabowo yang dimainkan oleh Budi Winarto dengan saksofon soprannya.

Drama yang diilhami oleh peristiwa penculikan aktivis di era Orde Baru-Soeharto ini berwujud obrolan antara tokoh suami dan istri yang anaknya diculik dan belum kembali. Obrolan terjadi menjelang tengah malam. Bapak mengenakan sarung dan berkaus oblong, sedangkan Ibu bergaun panjang.

Kalau dilihat secara sederhana, obrolan terbagi dua fase: fase pertama menyangkut tindak kekejaman secara umum yang dilakukan oleh tentara, fase kedua memfokuskan pada kehidupan Ibu-Bapak itu, yang anaknya, Satria (diperankan oleh korban penculikan yang sebenarnya, aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi, Nezar Patria) hilang diculik penguasa.

Dalam setting itu sekaligus setting politik sekarang yang cenderung ingin melupakan korban-korban penculikan yang sampai kini tak ketahuan rimbanya, drama ini serentak menemukan relevansi sosialnya. Dengan langsung menunjuk peristiwa-peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia termasuk pada tahun 1965, drama ini sendiri lalu seperti berada di wilayah "kesenian kontemporer" dengan sifat khasnya: meleburnya batas antara kesenian dan kehidupan nyata;
antara ruang pribadi dan ruang publik; dan seterusnya.

Apa yang dialami si Ibu-Bapak Niniek dan Simatupang, adalah juga pengalaman sehari-hari sekian orangtua yang kehilangan anak-anaknya, anak yang kehilangan bapaknya, diculik oleh genderuwo penguasa politik.

***

"INI hanya sebuah kopi dramatik dari peristiwa yang sebenarnya," kata Seno Gumira. Seno sendiri yang lebih dikenal khalayak sebagai penulis cerpen sebenarnya juga pernah menggauli penulisan naskah drama. Ia pernah bergabung dengan Teater Alam, Yogyakarta, pimpinan Azwar AN pada pertengahan 1970-an. Ia pernah menggelar drama karyanya berjudul Pertunjukan Segera Dimulai pada 1976. Belakangan, ia mementaskan Tumirah Sang Mucikari (1998) yang diilhami oleh huru-hara politik di Tanah Air.

Mengapa Kau Culik Anak Kami? sendiri, dari segi naskah dan strategi pementasan, boleh jadi oleh penulis dan sutradaranya tidak langsung diparadigmakan dalam gagasan-gagasan yang mendasari peleburan batas kesenian dan kehidupan seperti diwacanakan oleh seni kontemporer. Suasana penantian, misalnya, mungkin masih seperti mengacu pada "modernisme" Becket, taruhlah dalam Waiting for Godot.

Namun, para pendukung, katakanlah Niniek, Simatupang, serta tak ketinggalan penata musik Tony Prabowo, dengan kematangannya telah menjembatani apa yang bisa dicapai naskah tersebut dengan publiknya. Ini masih didukung adegan sekilas yang menjadi penting, ketika Nezar Patria tiba-tiba muncul di panggung beberapa detik. Sementara saksofon yang melengkingkan blues oleh Budi Winarto yang menandai pergantian babak, setiap saat menggarisbawahi, betapa pahit dan mengenaskan sebetulnya hidup di republik ini.

Itulah yang membuat hati banyak orang teriris dan sebagian menjadi sembab matanya ketika keluar dari gedung pertunjukan.

Di panggung, Niniek berujar, "Sudah setahun lebih. Setiap malam aku berdoa mengharapkan keselamatan Satria, hidup atau mati. Aku hanya ingin kejelasan...." Sementara Simatupang berdiri, maju ke ujung panggung dan bermonolog, "Mengapa kau culik anak kami? Apa bisa pertanyaan ini dijawab oleh seseorang yang merasa memberi perintah menculiknya?"

Pertanyaan itu belum terjawab di atas pentas. Juga di luar pentas. (P13)

Pertanyaan itu belum terjawab di atas pentas. Juga di luar pentas. (P13)

 
 

Copyright © 2007 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821 | Email: kontras_98@kontras.org | Webmaster: pemelihara@kontras.org