Untitled Document
Cari
Sumber
 

Untitled Document
Kegiatan Peringatan 22 tahun Tragedi tanjung Priok 84
 
  • Ziarah kubur, dan Napak Tilas (12/09/06)

    ziarah tanjung priokAcara ini diawali dengan berkumpul di Kontras pkl 09.00 WIB. Sekitar 60 kel korban dan aktifis HAM berangkat ke TPU Budi Dharma Cilincing Jakarta Utara. Sesampainya di TPU para peziarah membacakan Doa terhadap 10 para korban yang dimakamkan secara massal disana. Diselingi dengan orasi dari Ustad Ratono (salah satu pencaeramah pada malam kejadian) serta Tokoh Priok yang lain. Hari itu menjadi hari berkabungya daerah Tanjung Priok. Kurang lebih 400-500 orang (menurut Petisi 50) meninggal dan dikuburkan secara massal. Pasukan Arhanudse memberondong massa pengajian yang hendak membebaskan temanya yang ditahan di Kodim Jakarta Utara dengan timah panas. Sekitar pkl 11.00 WIB rombongan meluncur menuju Depan Polres Jakarta Utara (tempat Pembantaian). Bunga mawar ditaburkan dipenjuru jalan Yos Sudarso. Ditempat itulah bergelimpangan jamaah yang dipimpin Amir Biki dihabisi. Bukan hanya itu, sejumlah truk dan panserpun menggilas massa yang tidak berdaya merintih terkena peluru dijalan itu. Sebuah Famplet tentang “kronik kasus Priok” juga disebar ke Masyarakat sekitar. 22 tahun sudah tregedi Tanjung Priok. Negara seakan diam dengan kondisi itu. Korban dan keluarga korban yang cacat, keluarganya meninggal, hartanya dirampas, seolah hanya menjadi onggok belaka. Kalau semua terdakwa dibebaskan disemua tingkatan peradilan HAM, lalu siapa yang berbuat bengis tersebut ?

    Diskusi Publik  (12/09/06)

    diskusi priokDiskusi tersebut dimulai pkl 13. 00 WIB. Dalam bedah Kasus priok ini menghadirkan Pembicara : Emong Komariyah (Hakim HAM), Lies Sugondo (Komnas HAM) dan Usman Hamid (KontraS). Diikuti 100 Kel korban priok, Mei  serta wartawan dan jaringan NGO yang lain, diskusi cukup dinamis. Dengan focus materi suap, pencabutan BAP serta pembebasan para pelaku disemua proses pengadilan, menjadi energi untuk membuka dan menuntut kembali adanya pengadilan HAM Tanjung Priok. Dengan tema “masa depan Tanjung Priok pasca bebasnya semua pelaku”, Emong Komariah (Hakim HAM) mengusulkan supaya ada gugatan baru yang harus dilakukan korban, yakni gugatan perdata terhadap lalainya pemerintah dalam memberikan kompensasi, restitusi dan rehabilitasi terhadap korban. Hal ini penting karena penderitaan yang nyata dan sudah berkepanjangan. Kompensasi,restitusi, dan rehabilitasi adalah Hak yang melekat pada korban. Sedangkan dalam putusan Tinggi maupun Mahkamah Agung juga tidak menafikan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat. Hal senada juga disampaikan Lies Sugondo (komnas HAM), bahwa korban harus terus berupaya dan menuntut pelaku untuk diadili. Dengan mencari bukti dan pelaku yang lainya yang belum diseret dipersiadngan. Dalam diskuis tersebut juga tidak lanjut yang bisa dilakukan adalah  membuat permohonan penetapan atas kompensasi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Abainya negara dalam tanggung jawabnya harus dikuak. Walaupun pengadilan HAM telah gagal, hak-hak korban harus diberikan, diantaranya hak atas keadilan.

  • 68H acara khusus (fieture) 11-15 September 2006

    Dalam rangaka sosialisasi kasus ini, 68 h membuat liputan khsusu selama 5 hari mulai dari tanggal 11-15 September. Dalam sorotanya 68h merunut kejadian per-tempat kejadian. Diawali dari proses kejadian di Musolla Assaadah, pengajian dan peritiwa 12 september, penagkapan dan penguburan massal,  sampai dengan proses persidanganya. Disiarkan pada pkl 06.30 sampai 07.00 WIB dalam program siaran “sarapan pagi” . liputan tersebut juga mewawancarai para korban, pendamping dan para hakim yang mengadili perkara serta fihak-fihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

TRAGEDI TANJUNG PRIOK 1984

Copyright © 2006 | www.kontras.org
Jl. Borobudur No.14 Menteng | Jakarta Pusat 10320
Tlp: 021-3926983, 3928564 | Fax: 021-3926821