Perayaan Dua Belas Tahun KontraS

Perayaan Dua Belas Tahun KontraS digelar pada Rabu (24/3), di Gedung Dhanapala Departemen Keuangan, Jakarta. Acara yang mengambil tema khusus “Politik Kewargaan: Sebuah Harapan Kemanusiaan Indonesia” ini dipilih sebagai tema strategis KontraS tahun ini. Pengalaman KontraS mendampingi korban pelanggaran HAM dan ikut mengadvokasi berbagai kasus bercorak pelanggaran HAM lainnya membuktikan bahwa ruang artikulasi politik kewargaan kita kerap kali harus berhadapan dengan kepentingan politik negara di jalur yang cenderung bersitegang. Tema ini kemudian disisipkan dalam Kuliah HAM yang dibawakan oleh Dr. Fransisco Budi Hardiman dan Dra. Niniek L. Karim, M.Si.

Dalam acara ini, KontraS tidak saja mengundang segenap keluarga korban pelanggaran HAM semata, namun KontraS juga mengundang para pengampu kebijakan negara seperti Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, Sekjen Wantanas Bambang Dharmono, Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, beberapa pejabat komisi yudisial, dan beberapa pejabat tinggi di jajaran kepolisian. Selain itu KontraS tak lupa mengundang simpul gerakan masyarakat sipil lainnya yang selama ini telah bahu membahu bekerja dalam penegakan hak asasi manusia. Secara khusus acara dibuka oleh Koordinator KontraS, Usman Hamid yang menjelaskan tentang kondisi korban dan keluarga korban pascaterjadinya pelanggaran HAM di Indonesia. Acara dilanjutkan dengan pemotongan  tumpeng  yang dilakukan oleh Wakil I Koordinator Indria Fernida. 

Di dalam auditorium, acara resmi dibuka dengan penayangan video profil animasi 12 tahun KontraS. Setelah pemutaran video berdurasi 12 menit itu kemudian Kin Aulia dan Iik Aditya menembangkan sebuah lagu berjudul Damailah. Acara kemudian dilanjutkan dengan pidato pengantar kuliah HAM oleh Zumrotin KS selaku perwakilan Badan Pengurus KontraS. Secara khusus Zumrotin menyoroti tentang perjuangan KontraS dan korban sepanjang 12 tahun terakhir, namun sayangnya upaya tersebut belum diikuti dengan tindakan konkret dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalah pelanggaran HAM.

Sebelum memasuki kuliah HAM, Pak Amir korban dari peristiwa Talangsari 1989 membacakan tiga judul puisi yang mengisahkan tentang harapan korban terhadap situasi sosial politik di Indonesia. Memasuki puncak acara, Arian Seringai dan Saras Dewi membacakan biografi singkat dari dua pemateri. Kuliah HAM pertama diberikan oleh Dr. Fransisco Budi Hardiman. Sepanjang 20 menit Dr. Fransisco yang akrab dipanggil Franky ini menyajikan kuliah “Peradaban HAM sebagai Nilai Kewargaan”. Dalam kuliahnya ia menyoroti perkembangan HAM dari segi nilai kewargaan di tengah masyarakat. Franky melontarkan pertanyaan kepada para tamu hadirin, Mengapa HAM belum bisa menjadi nilai kewargaan dalam masyarakat? dalam naskahnya Franky menyatakan bahwa nilai-nilai HAM masih ditempatkan oleh masyarakat sebagai sebuah norma asing, eksternal dan berjarak dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Dan dia juga menjelaskan kendala yang dihadapi di dalam masyarakat sehingga HAM belum menjadi bagian dari nilai kewargaan.

Masuk pada kuliah HAM kedua yang dibawakan oleh Dra. Niniek L. Karim, M.Si, tema kebudayaan dan manusia menjadi pokok tulisannya dengan judul naskah, “Kantung-Kantung Kebudayaan yang Membebaskan Manusia”. Dalam ceramahnya, Niniek mengajak kita semua untuk membangun kantung-kantung kebudayaan di seluruh pelosok Indonesia. Sebagai pekerja seni yang malang melintang dalam dunia film dan teater, kantung-kantung kebudayaan adalah sarana penting yang bisa digunakan oleh warga Indonesia untuk mengumpulkan energi-energi positif, sebagaimana yang diyakini oleh Niniek dengan keberadaan Teater Populer pimpinan Teguh Karya, di mana Niniek lama berkarya di sana.

Dalam kuliah HAM ini, KontraS berkesempatan untuk memberikan Penghargaan HAM secara khusus kepada Almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur atas dedikasinya pada rasa keadilan, perdamaian dan kemanusiaan. Penghargaan diberikan oleh Usman Hamid kepada keluarga Gus Dur yang di wakili oleh Inayah Abdurrahman Wahid. Dalam kesempatan itu Inayah menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh KontraS dan para pegiat HAM atas kerja-kerja yang dilakukan oleh ayahnya selama ini. Acara ditutup dengan pertunjukan musik perkusi dari Sanggar Akar yang semakin menyemarakkan perayaan KontraS tahun ini.***

Foto-Foto perayaan 12 tahun Kontras