Kronologi Peristiwa Penembakan Aparat Kepolisian Brimob Polres Banyuwangi Terhadap Warga Sumber Agung

Kronologi Peristiwa Penembakan Aparat Kepolisian Brimob Polres Banyuwangi Terhadap Warga Sumber Agung

 

13 Oktober 2015

Masyarakat sekitar tambang melakukan penghadangan terhadap kendaraan yang mengangkut alat berat ke areal tambang PT. BSI. Alasan masyarakat menghadang alat berat ini dikarenakan jalan yang dilalui adalah jalan golongan tiga C, yang tidak layak untuk dilalui kendaraan tersebut.

 

19 Oktober 2015

Masyarakat secara spontanitas berkumpul dan bersama – sama memasuki areal pertambangan PT. BSI. Ketika berada didalam areal pertambangan, masyarakat terkejut dengan fakta yang meraka lihat. Masyarakat mendapati bahwa gunung tumpang pitu di area petak 13 sudah rata dengan tanah, tidak ada lagi satupun pohon yang berdiri. Dalam suasana yang mulai memanas muncullah pesawat drone yang dioperasikan dari belakang kantor PT. BSI. Kehadiran pesawat Drone ini memancing emosi masyarakat, sehingga terjadilah aksi perusakan pesawat tersebut termasuk perusakan kaca jendela samping kantor PT. BSI. Dikarenakan adanya aksi perusakan ini, maka pihak kepolisian menahan 3 orang dan dibawa ke Polres Banyuwangi

 

20 Oktober 2015

Perwakilan masyarakat Desa Sumber Agung yang berjumlah 10 orang diundang oleh Kapolres Banyuwangi untuk menghadiri Rapat Koordinasi antara perwakilan PT. BSI, Forpimda dan perwakilan masyarakat. Dalam rapat koordinasi ini disepakati :

  1. PT. BSI akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat paling lambat 1 minggu untuk menjelaskan ijin, amdal, dan operasional PT. BSI di Tumpang Pitu secara terbuka di ring 1 Desa Sumber Agung.
  2. Membebaskan 3 anggota masyarakat yang ditahan ole pihak kepolisian.

 

15 November 2015

Perwakilan masyarakat melayangkan surat pemberitahuan unjuk rasa damai kepada pihak kepolisian Polres Banyuwangi. Unjuk rasa ini dilakukan karena pihak PT. BSI tidak menepati janjinya kepada masyarakat untuk melakukan sosialisasi.

 

18 November 2015

Segenap masyarakat sekitar Tumpang Pitu memberanikan diri untuk mengikuti prosedur sesuai UUD NOMOR 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum. Edi Laksono dan Fitriyati yang ditunjuk sebagai korlap membuat surat pemberiatahuan kepada Polres Banyuwangi namun tidak diterima.Unjuk rasa tetap berlangsung dan lokasi unjuk rasa berada di depan pos security PT.Bumi Sukses Indo serta berlangsung damai.

Unjuk rasa damai ini diikuti sekitar 3000 massa. Dalam unjuk rasa ini tuntutan masyarakat bukan lagi menuntut PT. BSI untuk melakukan sosialisasi, tetapi menuntut PT. BSI untuk menutup segala aktivitas pertambangan di tumpang pitu. PT. BSI yang diwakili Manager CSR Musmin Nuryandi (Humas) menjanjikan kepada masyarakat, bahwa paling lambat dalam 1 minggu akan menyampaikan kepada Managemen Pusat tentang tuntutan masyarakat untuk menutup aktifitas pertambangan untuk selamanya.

 

24 November 2015

Sebagai tindak lanjut dari aksi unjuk rasa damai tanggal 18 November 2015, pada tanggal 24 november 2015, sekitar pukul 15.00 Wib, Pj.kepala Desa datang kerumah saudara Edi Laksono dan mengantarkan undangan untuk mengundang hadirkan perwakilan masyarakat yang menolak adanya tambang Tumpang Pitu. Saudara Edi Laksono menyampaikan kepada pj. kepala desa bahwa kapasitasnya bukan sebagai perwakilan masyarakat karena masyarakat menyatakan secara bahwa warga tidak ingin diwakili oleh siapapun.

Pukul 16.00 wib saudara Edi Laksono memberi tahukan kepada segenap warga terkait undangan sosialisasi PT BSI di Hotel Baru Indah jajag dan seluruh warga sepakat untuk hadir tanpa di wakili oleh siapapun.

 

25 November 2015

Pukul 08.00 Wib Pj Kepala desa menyampaikan kepada segenap masyarakat yang akan menghadiri undangan supaya berkumpul di kantor balai desa Sumber Agung karena keberangakatannya  akan dikawal oleh Kapolsek Pesanggaran.

Pukul 08.30 WIB sekitar 150 warga berangkat bersama sama menuju lokasi dan di kawal Mobil Sabhara Polsek Pesanggaran untuk menghadiri Rapat Sosialisasi bertempat di Hotel Baru Indah Jajag Banyuwangi. Rapat ini dihadiri Forpimda, Perwakilan PT.BSI Cahyono Seto  (direksi PT. BSI), dan masyarakat berjumlah sekitar 150 orangyang kemudian memasuki ruangan.

Pukul 11.05 WIB dimulai, dalam rapat ini terjadi dialog antara masyarakat dengan Cahyono Seto selaku perwakilan PT. BSI. Dalam dialog ini terjadi keributan, dikarenakan Cahyono Seto menjelaskan masalah perizinan, sedangkan masyarakat menuntut penutupan tambang, bukan penjelasan masalah perizinan dan dalam isi undangan jelas bawa acara tersebut adalah sosialisasi bukan dialog dan dipimpin oleh Wiyono sebagai moderator. Dalam dialog awal Wiyono mempersilakan 3 orang penanya dari warga masyarakat yang hadir dan ternyata ada 2 penanya dan  ditengah adu argumentasi tersebut, Kapolres mengambil alih mikrofon yang dipakai oleh Cahyono Seto untuk menenangkan massa. Ditengah keributan itu Kapolres mengatakan “KITA INI PUNYA ATURAN DAN TATA TERTIB BUKAN LIAR SEPERTI JAMAN JAHILIYAH GAK PUNYA PENDIDIKAN,SAYA DULU SAYA PIKIR TUGAS DI JAWA TIMUR BANYUWANGI INI MASYARAKATNYA SOPAN SOPAN SAYA TERUS TERANG KECEWA”.

Pukul 12.30 WIB, masyarakat keluar dari ruangan mediasi karna kecewa terhadap ucapan Kapolres Banyuwangi. Jarak antara Hotel Baru Indah  lokasi rapat sekitar 35km dan perwakilan masyarakat masih makan di Warung Soto Pedotan. Selesai makan siang, ternyata di depan lokasi tambang Tumpang Pitu tepatnya didepan pos 8 telah terjadi amuk massa dan penembakan yang dilakukan oknum aparat kepolisian. Akibatnya 3 orang mengalami luka-luka akibat tembakan anggota polisi, satu tertembak di telinga kanan, dua tertembak di paha. Aksi brutal aparat kepolisian inilah yang kemudian menyulut aksi massa yang lebih besar pada malam harinya, sehingga terjadilah pembakaran terhadap aset-aset PT.BSI yang ada di Tumpang Pitu.

Keterangan: Walaupun dindikasikan bahwa kepolisian menggunakan peluru karet, akan tetapi, dari bukti – bukti di lapangan mengindikasikan bahwa pihak kepolisian telah menggunakan peluru tajam untuk menembak masyarakat.

 

 

Data Korban Luka tembak /peluru dan pemukulan karet di gunung tumpang pitu

 

No Nama Umur Alamat Kondisi Keterangan
1 Angga Rudiyanto

 

22 th Sili Baru Kena tembak dibagian paha Kena tembakan peluru karet
2 Sunar 40 th Silir Baru Kena tembak dibagian paha kaki kanan Kena Peluru Tajam
3 Rudi Antoro 22 th Rowo Jambi Pancer Kena tembak dibagian lutut kiri Kena Peluru Tajam
4 Jofan 18 th Pancer Kena tembak di paha kanan Kena Peluru Tajam
5 Suyadi 45 th Pancer Kena pukul dibagian kepala Kena Popor
6 Ginarto 41 th Pancer Kena tembak di bagian kaki kanan Kena Peluru Tajam
7 Suradi 42 th Bangorejo Kena pukul dibagian kepala Dipukul Pake rotan oleh polisi
8 Poniran 56 th Silir Baru Kena pukul dibagian wajah Dipukul pake kayu polisi
9 Agua 27 th Jember Kena pukul dibagian punggung Dipukul pake skrup polisi
10 Nariyo 30 th Ringgin Agung Kena tembak dibagian kuping kiri Kena tembak peluru tajam

Tanda tangani petisinya dengan klik gambar di atas