Peluncuran ZINE: Kwitangologi!

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-21, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melakukan soft launching Zine bertajuk “Kwitangologi”. Zine sendiri merupakan sebuah media cetak alternatif yang dapat berfungsi sebagai platform untuk menyampaikan pesan-pesan dari pembuatnya. Dalam terbitan yang pertama ini, KontraS memilih judul Kwitangologi yang dapat diartikan sebagai ide-ide dan pemikiran yang tumbuh dan berkembang di daerah Kwitang (kantor KontraS) agar dapat tersebar pada khalayak yang lebih luas. Adapun Zine ini terdiri atas 6 bagian yang keseluruhannya membahas mengenai berbagai fenomena baik sosial, politik, hukum, maupun HAM di Indonesia saat ini.

Bagian pertama Zine ini bertajuk “Pemilu: Gak Boleh Malu-Malu” yang terdiri atas rubrik-rubrik yang membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan Pemilu 2019, khususnya yang berkaitan dengan penegakan HAM di Indonesia. Rubrik-rubrik ini berisi berbagai hal mulai dari pemetaan purnawirawan bermasalah di balik kedua Paslon presiden-wakil presiden, kritik terhadap kampanye yang melibatkan pejabat publik, isu dwifungsi TNI, sampai pro-kontra terkait golput.

Setelah membahas Pemilu, Zine ini kemudian membahas mengenai pelanggaran HAM masa lalu dalam bab yang berjudul “Masa Lalu Janganlah Berlalu”. Bab ini berisi dua rubrik yakni “Permohonan Maaf Kepada Pocong” yang mengungkit fenomena saling tuduh-menuduh terkait peristiwa penculikan aktivis pada tahun 97-98 antara Wiranto selaku Menkopolhukam, Kivlan Zein selaku Purnawirawan TNI, dan Agum Gumelar selaku anggota Wantimpres. Rubrik ini dimaksudkan untuk memberikan kritik dengan gaya satir terhadap ketidakdewasaan para petinggi negara yang dipertontonkan oleh Wiranto, Kivlan Zein, dan Agum Gumelar, yang berujung pada tantangan sumpah pocong dari Wiranto. Selain itu, bab ini juga berisi kritik terhadap penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu yang dituangkan dalam rubrik “Playlist ‘Mandek’ is on Repeat

Kemudian, Zine ini membahas mengenai kondisi pengakuan, penghormatan, serta pemenuhan HAM di Indonesia yang diambil dari laporan Catatan Hari HAM KontraS. Pada bagian ini, terdapat berbagai data pelanggaran HAM di Indonesia selama tahun 2018 yang terdiri atas data hukuman mati, penyiksaan, pelanggaran hak atas ebebasan berkumpul dan berekspresi, pelanggaran hak atas kebebasan beragama, berkeyakinan, dan beribadah, okupasi, dan kriminalisasi.

Bab berikutnya memiliki tajuk “Bicara HAM” yang berisikan wawancara KontraS dengan dua orang narasumber yang merupakan pakar di bidangnya masing-masing, yakni Ariel Heryanto dan Saras Dewi. Dengan Ariel Heryanto, kami membahas mengenai kondisi politik saat ini terutama dalam kaitannya dengan Pemilu. Dengan Saras Dewi, kami membahas mengenai keterkaitan antara sistem politik yang ada saat ini dengan penaklukan dan eksploitasi terhadap ligkungan hidup.

Zine ini kemudian ditutup dalam dua bab terakhir yang berisi sentilan-sentilan halus terhadap para elit yang terdiri atas analisis kepribadian pejabat publik berdasarkan zodiak, playlist lagu-lagu dengan tema perlawanan, serta kompilasi pernyataan konyol baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto.

Mengkomunikasikan kerja-kerja HAM merupakan tantangan tersendiri bagi organisasi-organisasi HAM. Salah satu cara yang kami coba lakukan melalui Zine ini adalah dengan menyederhanakan berbagai diskursus yang teoritik dan terkesan berat mengenai HAM ke dalam bahasa-bahasa yang ringan serta dibungkus dengan visual yang menarik dan menghibur. Harapannya, diskursus HAM yang terus kami coba untuk bangun tidak hanya hadir dalam tembok-tembok sebuah rumah kecil di daerah Kwitang, namun dapat mengalir ke ruang-ruang lainnya seperti taman, kampus, bahkan warung kopi.

(Visited 138 times, 1 visits today)