Mewarnai September Hitam

September kali ini terasa cukup suram bagi sebagian besar kita, COVID-19 yang sejak awal tahun melanda tak kunjung bisa pemerintah & kita buat reda. Gejalanya kian memburuk, tenaga & fasilitas kesehatan yang terbatas hingga prediksi perekonomian yang semakin ambruk.

Kondisi suram juga menghampiri hidup para warga yang menjadi korban pelanggaran HAM berat di bulan September. Ada sejumlah kasus kemanusiaan yang berakar dari kekerasan dan kesewenang-wenangan yang sayangnya negara juga tak mampu hadirkan keadilan bagi para korban. Pembunuhan Munir hasil kongkalikong negara, Tragedi Tanjung Priok 1984 yang menjadi bukti bahwa negara pernah begitu kejam atas nama Pancasila, Tragedi Semanggi II & #ReformasiDikorupsi penanda negara gagal menyikapi ekspresi rakyat serta Tragedi 1965 buah balas dendam militer akan malam kelam 30 September dengan dugaan korban mencapai jutaan jiwa dengan ragam kekejian yang paling mungkin bisa terjadi terhadap nyawa manusia.

Negara masih abai dengan derita para penyintas dan keluarga korban. Kehilangan serta perubahan hidup yang terjadi tentu bukan hal yang mudah untuk mereka hadapi sehari-hari. Penghormatan dan pemenuhan hak-hak kemanusiaan juga tak kunjung hadir meski negara pernah terbukti gagal menjamin dan melindungi hak orang-orang yang mereka kasihi. Perlindungan akan potensi keberulangan di masa depan juga masih menjadi kabur sebab negara tidak juga memberikan kepastian hukum dan justru memberikan keistimewaan kekebalan hukum bagi mereka yang diduga berada di balik luka ini semua.

Jika bukan kita yang terus mencoba mengingatkan, menagih serta menuntut kemanusiaan terhadap negara, bukan tidak mungkin #SeptemberHitam akan kian menghitam. Jika bukan kita yang mencoba mewarnai #SeptemberHitam, bagaimana bisa September di Indonesia menjadi ceria layaknya tembang lawas Vina Panduwinata yang masih kerap diputar media & pusat perbelanjaan kesayangan warga begitu bulan kesembilan ini tiba? Mari berupaya mewarnai #SeptemberHitam sebagai cara memperjuangkan kemanusiaan bagi sebanyak-banyaknya kita, manusia.

Esai

September 30, 2020

Untuk Pak Munir dan Impianku

Sebuah tulisan amatir […]
September 30, 2020

Tragedi 1965 di Mata Saya : Terima Kasih kepada Novel ‘Pulang’

Sebelumnya telah disunting […]
September 30, 2020

Semanggi Berdarah: Jalan Panjang Menuntut Keadilan

21 tahun telah […]
September 30, 2020

“Catatan Seorang Pengagum Munir Said Thalib”

7 September 2004, […]

Gambar

Video