Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik atas kerja-kerja KontraS dalam mengawal proses demokrasi dan pengakan HAM sepanjang tahun 2006, KontraS meluncurkan Buku Laporan Tahunan HAM 2006, pada September 2007 ini. Meski terlambat, KontraS berharap catatan ini dapat menjadi cermin bagi pengambil kebijakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam menjalankan tanggungjawab negara kepada rakyatnya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat sipil, khususnya korban pelanggaran HAM untuk terus membangun harapan dan berjuang dalam merebut keadilan.
RISALAH KASUS MUNIR
kumpulan catatan dan dokumentasi hukum
Buku ini diterbitkan bukan sebagai buku bacaan populer, terutama mengingat cakupan materi yang ada. Tapi buku ini diharapkan menjadi bahan referensi bagi kalangan pemerhati dan penegak hukum, termasuk para sarjana dan kaum cendikiawan hukum. Ini adalah tantangan bagi dunia hukum, selain menjadi pengalaman pertama bagi dunia hukum.
Menjadi tugas kita semua untuk terus menerus mengingatkan seluruh komponen bangsa dan negara agar serius mengungkap kasus pembunuhan Munir. Agar sejarah kita berubah. Orang tidak lagi boleh dihilangkan nyawanya atas alasan apapun, apalagi hanya karena pikiran dan sikapnya. Kita juga tidak boleh membiarkan ada orang yang merampas hak hidup orang lain tanpa merasa bersalah dan menyangkalnya sambil berlindung di balik pengaruh politik dan materi. Kita tidak mungkin terus mengulangi sejarah kelam bila kita memang ingin betul-betul berhasil membangun negara dan bangsa Indonesia pada masa depan.
KASUM
Komite Aksi Solidaritas untuk Munir
Committee of Action in Solidarity for MunirFile Deskripsi: Type: *.PDF Size: __
Talangsari 1989,
Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung
Judul buku : Talangsari 1989, Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa LampungPenulis : FadilasariPengantar : Zumrotin KSPenerbit : Lembaga Studi Pers dan Pembangunan dan Sijado, Maret 2007Tebal : ix + 125 halaman
Talangsari 1989. Kejadian itu sudah berlalu 18 tahun lalu. Meski begitu, bagi sebagian orang peristiwa itu mungkin tidak mungkin terlupakan. Bahkan, sebagaimana dituturkan dalam buku ini, masih ada keluarga korban yang luput dari kematian dalam penyerbuan aparat ke Talangsari 7 Februari 1989 dan serentetan upaya penumpasan apa yang distigmatisasikan sebagai Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Anwar Warsidi itu; yang masih ‘trauma’ dengan kejadian itu.
Ada sebagian pula yang masih berjuang terus menggugat kasus ini tetap dibuka dan para para pelanggar hak asasi manusia (HAM) mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
File Deskripsi: Type: *.PDF Size: __
MEMBANGUN BANGSA MENOLAK MILITERISME
Membangun Bangsa (Nation) adalah kata kunci dari semangat awal bagian-bagian masyarakat kita menyatukan diri serta memberikan identitas atas dirinya sebagai Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, identitas itu tidaklah dinaungi oleh nilai-nilai yang sama. Akan tetapi dari waktu ke waktu, saling pengaruh antar bagian dalam bangsa ini ataupun kehidupan global, talah turut menentukan dan membangun watak, nilai serta interprestasi baru atas kebutuhan bangsa.
Kalaupun hari ini kita masih banyak melihat belum secara jelas dirumuskan nilai-nilai pengikat dan menemukan karakter sebagai sebuah Nation, ini tidak terhindar bahwa rumusan itu sendiri masih akan ditentukan oleh perjalanan sejarah yang sedang kita buat hari ini, serta berbagai nilai yang berkembang adalah jalan panjang masa lalu yang diterima secara dipaksakan oleh sebuah kekuatan rezim kekuasaan.
Maka nilai-nilai kebangsaan awal, sebagai semangat dasar merumuskan diri menjadi sebuah bangsa, telah mengalami pendangkalan akibat prilaku dan nilai-nilai kekuasaan itu. Tentu kita kemudian akan berbisaca bagaimana perilaku itu dicerminkan oleh sebuah rezim kekuasaan Orde Baru yang telah memaksakan secara sistematis apa yang kemudian disebut militerisme.
KASUM
Komite Aksi Solidaritas untuk Munir
Committee of Action in Solidarity for Munir